Aku masih ingat bagaimana caramu menatapku. Mata polosmu. Tipe laki-laki yang santun. Yang amat baik. Yang untukku, sukses
menghujam segala yang ada dalam diriku. Yang mampu membuatku menghapus semua
garis yang berlebih, meluruskan garis yang tak sesuai jalur, melengkapi setiap
garis putus-putus yang ada pada diriku.
Sampai akhirnya aku menyadari, bahwa Dia yang berhak atas
dirimu.
Bahwa Dia yang berhak atas segalanya.
Jalan ini masih selalu lurus. Karena memang itu janji-Nya.
Aku ingat, Dia tak pernah menjanjikan bahwa jalan ini tak penuh oleh duri.
Bahwa jalan ini mudah. Tidak, aku selalu ingat. Dan itulah yang menguatkanku
selama ini, aku percaya pada-Nya, aku percaya pada jalan ini, dan aku juga
percaya pada ujung jalan ini. Sebuah tempat yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, menara-menara yang terbuat dari cahaya, tempat kita dijanjikan
untuk bertemu nanti..
Iya, tempat kita dijanjikan untuk bertemu nanti, dengan
syarat: kita bertemu dan berpisah karena
Allah.
“Berat, tapi menjanjikan.”
Aku pernah meminta mana bagianmu untuk peduli. Aku pernah
menuntut bagaimana caramu bersikap kepadaku. Tapi sekarang, tidak. Aku membiarkanmu
memilih mana yang pantas kau berikan untukku. Bahkan untuk sekedar caramu
berbicara denganku. Aku percaya bahwa setiap keputusan yang kau ambil adalah
yang terbaik untukmu, untukku, untuk kita, dan utamanya, untuk Allah.
Jika kisah kita memang pernah ternodai, maka biarlah Allah
yang membersihkan nodanya. Jika kisah kita tak lagi indah seutuhnya, maka
biarlah Allah yang memperbaikinya sampai kita dipertemukan lagi nanti. Jika takdir
kita memang tak satu, maka biarlah Allah yang memberi jalannya..
Cukuplah banyak-banyak berdoa, semoga Dia senantiasa
memberikan kekuatan. Untukku juga untukmu. Banyak hal yang menanti untuk diberi
perhatian kita, maka jangan sampai lalai dalam menunaikan amanah-Nya. Semangat
calon mahasiswa!




