Bismillah, assalamu’alaikum.
Halo.
Ini Rai yang sedang menangis, deras, seperti hujan yang
sedang mood-moodnya mengguyur Jakarta.
19 tahun. Apakah itu waktu yang tepat untuk disesakkan beban
seberat-beratnya?
Aku 19 tahun. Dan aku merasa berat.
Mungkin orang lain melihat Rai sebagai anak yang pintar,
membanggakan, lalala yeyeye. But I am not. I am nothing.
Aku 19 tahun dan aku kehilangan banyak hal. Cita-citaku,
hampir seluruh semangat hidupku, dan
hampir seluruh keluargaku.
Aku tidak akan pernah bertanya siapa yang salah. Aku tidak
punya hak untuk menilai siapa yang salah dan siapa yang benar. Biar Dia yang
menilai. Biar Dia yang memeriksa setiap lekuk hati manusia. Aku tidak mau jadi
orang yang banyak omong dan ternyata isinya kosong.
Aku 19 tahun dan seharusnya aku sedang bahagia seperti
teman-temanku yang lain.
Berorganisasi di kuliah, atau memulai bisnis, atau menapaki
hidup dengan kerja.
Bisa membeli barang-barang dengan uang hasil jerih payah
sendiri atau bersenang-senang dengan uang orang tua yang merasa bangga dengan apa yang dicapai
oleh anaknya.
Aku? Tidak.
Aku tidak bahagia.
Aku mencari sesuatu. Sesuatu yang bisa membawaku keluar dari
seluruh masalah ini.
Aku bahkan tidak merasakan ada lagi orang yang pantas untuk
aku ceritakan tentang diriku selain dia, atau bersimpuh di sajadahku dengan
Yang Mahakuasa.
Aku 19 tahun dan aku pernah dijatuhkan, jatuh bebas, ke
dasar lubang.
Terpuruk jauh di dasar lubang.
Dengan beberapa orang terdekat yang sudah menjauh. Orang-orang
terdekat yang sudah menjadi orang asing dalam 1 tahun terakhir ini.
And all I have left are just parents—and him, too.
I feel like I don’t have siblings. I just have a bank which
support my financial life with obligation.
The obligation that I should pay in my future.
Oh God I am ready for that. For paying every obligation that
they are willing to ask.
Yes I am crying, I am depressed, I am all alone in this
pathetic room.
With this green-basic-white-dots bedsheet, a purple Acer
notebook and a black Logitech mouse.
And a pack of tissue, too.
I don’t know what to do but write something in this sad
blog.
I am sad, I am in pain, I have nothing inside me but faith.
I have Allah here and everywhere.
I would stand for myself.
I gotta be strong.
AKU TAU AKU LEMAH DAN AKU GA PUNYA APA-APA SEKARANG.
Tapi aku akan mencari kebahagiaanku sendiri.
Aku cari kebahagiaan orang tuaku dengan tangan kakiku sendiri.
Note:
Terima kasih, kamu. Untuk semua semangat, canda, senyum, dan
semua tangis-tangisnya. Untuk jadi orang freak di Carrefour karena ngeliatin
film yang entah kenapa pas sama lagu yang lagi diputer. Untuk semua tertawa
dengan lepasnya.
Kita cari kemewahan kita bareng-bareng.



