Wednesday, December 24, 2014

Nangis, lagi

Bismillah, assalamu’alaikum.
Halo.
Ini Rai yang sedang menangis, deras, seperti hujan yang sedang mood-moodnya mengguyur Jakarta.

19 tahun. Apakah itu waktu yang tepat untuk disesakkan beban seberat-beratnya?
Aku 19 tahun. Dan aku merasa berat.
Mungkin orang lain melihat Rai sebagai anak yang pintar, membanggakan, lalala yeyeye. But I am not. I am nothing.
Aku 19 tahun dan aku kehilangan banyak hal. Cita-citaku, hampir seluruh semangat hidupku, dan hampir seluruh keluargaku.
Aku tidak akan pernah bertanya siapa yang salah. Aku tidak punya hak untuk menilai siapa yang salah dan siapa yang benar. Biar Dia yang menilai. Biar Dia yang memeriksa setiap lekuk hati manusia. Aku tidak mau jadi orang yang banyak omong dan ternyata isinya kosong.

Aku 19 tahun dan seharusnya aku sedang bahagia seperti teman-temanku yang lain.
Berorganisasi di kuliah, atau memulai bisnis, atau menapaki hidup dengan kerja.
Bisa membeli barang-barang dengan uang hasil jerih payah sendiri atau bersenang-senang dengan uang orang tua  yang merasa bangga dengan apa yang dicapai oleh anaknya.
Aku? Tidak.
Aku tidak bahagia.
Aku mencari sesuatu. Sesuatu yang bisa membawaku keluar dari seluruh masalah ini.
Aku bahkan tidak merasakan ada lagi orang yang pantas untuk aku ceritakan tentang diriku selain dia, atau bersimpuh di sajadahku dengan Yang Mahakuasa.

Aku 19 tahun dan aku pernah dijatuhkan, jatuh bebas, ke dasar lubang.
Terpuruk jauh di dasar lubang.
Dengan beberapa orang terdekat yang sudah menjauh. Orang-orang terdekat yang sudah menjadi orang asing dalam 1 tahun terakhir ini.
And all I have left are just parents—and him, too.
I feel like I don’t have siblings. I just have a bank which support my financial life with obligation.
The obligation that I should pay in my future.
Oh God I am ready for that. For paying every obligation that they are willing to ask.

Yes I am crying, I am depressed, I am all alone in this pathetic room.
With this green-basic-white-dots bedsheet, a purple Acer notebook and a black Logitech mouse.
And a pack of tissue, too.
I don’t know what to do but write something in this sad blog.
I am sad, I am in pain, I have nothing inside me but faith.
I have Allah here and everywhere.
I would stand for myself.
I gotta be strong.

AKU TAU AKU LEMAH DAN AKU GA PUNYA APA-APA SEKARANG.
Tapi aku akan mencari kebahagiaanku sendiri.
Aku cari kebahagiaan orang tuaku dengan tangan kakiku sendiri.


Note:
Terima kasih, kamu. Untuk semua semangat, canda, senyum, dan semua tangis-tangisnya. Untuk jadi orang freak di Carrefour karena ngeliatin film yang entah kenapa pas sama lagu yang lagi diputer. Untuk semua tertawa dengan lepasnya.

Kita cari kemewahan kita bareng-bareng.

11:57 PM