Postingan ini benar-benar membuat gue menangis.
http://jurusankuliah.tumblr.com/post/95228142433/45-kedokteran-siapa-bilang-jadi-dokter-itu-enak
Tadinya nahan-nahan untuk nggak nangis dari IBD kemarin.
Nahan-nahan untuk nggak nangis ketika ada orang-orang yang berskeliweran di sekeliling make sebuah almamater yang diperjuangin setengah mati, dan gak dapet juga setelah 2 tahun.
Gue berusaha fokus.
Apalagi pas praktikum IBD.
Ada yang make jas lab bertuliskan fakultas itu dengan makaranya yang, sungguh, membuat sedih.
Sungguh, gue iri sama mereka.
Iri sama satu persatu dari mereka yang ada di kelompok gue.
Gue liatin mereka satu satu, loh.
Iri.
Gue iri tentang betapa beruntungnya mereka.
Gue iri tentang besarnya struggle mereka.
Gue apa? Gue bukan apa-apa.
Padahal mereka satu tahun di bawah gue. Mereka lebih muda dan ternyata mereka lebih beruntung dari gue.
Mereka meng-kick gue dari urutan sbmptn & simak.
Tapi gue berusaha fokus (lagi).
Berusaha mengerti bahwa posisi gue ada di sini, di tempat ini, dan semua udah diatur sama Allah.
Gue berusaha nahan sampe akhirnya bener-bener pengen nangis pas lagi macet di depan pasar Kramat Jati.
Serius.
Tapi gue tahan. Nggak Rai, jangan nangis.
Di kelompok IBD gue ada seorang veter 2013 yang dia akhirnya dapet si majo (makara ijo) itu.
Anak farmasi 2014 yang ternyata adalah adek kelas SMA-nya doi, bilang gini ke gue dengan santainya:
Anak farmasi : "Dia itu keren banget"
Gue : "Siapa?"
Anak farmasi : *nunjuk*
Gue : "kenapa?"
Anak farmasi : "Iya dia ngulang gitu dan satu tahun nunggunya tuh worth it"
COBA DIULANGI LAGI.
"iya dia ngulang gitu dan satu tahun nunggunya tuh worth it"
Jadi gue ga worth it? :'(
Rai....
Udahlah udah. Move on lah. Terima aja.
((gue pengen bantai orang yang ga bisa bedain mana yang namanya bersyukur dan mana yang namanya ga bisa move on))
Dan sungguh, postingan tumblr yang tadi itu benar-benar membuat gue rindu.
Gue ga terbiasa dengan orang-orang yang ngeluh ketika disuruh ngerjain tugas semacam IBD. Agak tercengang dan mungkin belum terbiasa dengan suasananya.
Ini bukan sombong. Ini gue lagi curhat. Kalo sebel yaudah ga usah baca lagi.
Gue ga terbiasa dengan orang-orang yang ga mau dan merasa seram dengan matkul-matkul berbau anatomi, fisiologi dan sebagainya.
Gue bingung dan linglung. Sempat bingung dan linglung.
Tapi..
Ya di sini gue ada.
Dan entah sampai kapan.
Gue pun sedang mencari, mungkin kalau kata orang, mencari jati diri.
Entahlah.
And I am still crying.



