Ini esai OKK UI gue nih. Sayang kalau dibuang, mending diingat-ingat di sini haha. Enjoy!
AKU TIDAK BANGGA MENJADI
MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA
Universitas
Indonesia adalah sebuah kampus yang ternama. Sebuah kampus yang jika disebut
namanya, maka akan mendongak siapapun yang mendengar. Sebuah kampus yang jika
disebut prestasinya, maka tak heran lagi siapapun yang melihat. Aku adalah
bagian dari civitas akademika yang merasa ditumpukkan beban seberat-beratnya
pada pundak, tanpa pernah aku bayangkan sebelumnya.
Aku
hidup di Jakarta, dan sebagaimana layaknya sebagian besar siswa SMA di Jakarta,
tak ada kampus yang lebih strategis untuk dipilih selain Universitas Indonesia.
Selain dekat dengan orang tua, beasiswa yang bertaburan di sana membuatku
semakin ingin menjadi mahasiswanya. Aku, di tahun pertamaku, gagal menembus
kampus favorit ini. Aku menjalani satu tahun kuliahku sebagai mahasiswa
kedokteran di universitas negeri di Jawa Tengah. Berat, aku yang tak sanggup
pergi jauh dari orang tua, kemudian sakit selama 3 bulan. Sampai akhirnya aku
memutuskan untuk kembali pulang, mengejar mimpiku, menjadi bagian dari UI.
Menjadi bagian dari universitas yang membuatku dekat dengan semua orang
tersayang. Dengan deru pertanyaan dari keluarga, sahabat, bahkan hinaan orang
tak dikenal, aku memantapkan hati. Aku ingin menjadi dokter lulusan UI. Dan
begitulah awal mula dari semua perjuangan yang begitu melelahkan.
Universitas
Indonesia menolakku di jalur SBMPTN. Sampai akhirnya, hembusan angin segar itu
muncul dari pengumuman SIMAK. UI menerimaku di Fakultas Kesehatan Masyarakat,
program studi Ilmu Gizi. Berat, lagi-lagi berat. Ada proses panjang dari
euforiaku sebagai mahasiswa kedokteran yang beralih menjadi mahasiswa kesehatan
masyarakat. Ada proses di mana aku ingin kembali, tapi aku tak sanggup pergi
jauh. Dan kekuatan hati itu datang, aku memilih untuk masuk di kampus ini.
Aku,
dengan segala kepasrahanku, akhirnya menyadari bahwa kampus ini adalah kampus
perjuangan. Kampus tempat orang-orang hebat lahir dan menjadi penegak
kebenaran. Aku kemudian bertanya, siapa aku, dan apa mauku. Aku bertanya, siapa
aku, dan akan seperti apa aku ketika lulus. Segenap perasaan bahagiaku menjadi
mahasiswa UI runtuh. Ada bertumpuk beban yang dilempar begitu saja di pundakku.
Aku mahasiswa UI, dan aku tidak bangga. Aku takut. Aku berharap ada sedikit
banyak kontribusiku dalam masyarakat, seburuk apapun aku sekarang, dan sehebat
apapun aku ingin menjadi nanti.
Aku
ingin menjadi sumber ide bagi keberlangsungan setiap kegiatan yang menjadikan
masyarakat sebagai objeknya. Aku ingin menjadi seorang ahli gizi yang tak kenal
pamrih, yang bisa membantu kesulitan orang lain dalam kebutaan terhadap
nutrisinya. Aku ingin menjadi mahasiswa UI, yang selalu sigap membantu,
walaupun hanya dengan memberikan bangku yang aku duduki di kereta kepada ibu
hamil. Aku ingin menjadi mahasiwa UI yang tahu tentang adab, moral, dan
kecintaan terhadap perbuatan baik. Aku ingin menjadi mahasiswa UI yang
menjalankan perintah agama dengan baik dan menjadi agent of change di kehidupan bermasyarakat.



