Aku tau jalan kita ini tidak mulus.
Aku bukan perempuan yang penurut.
Tapi aku perempuan yang apa adanya.
Aku banyak menuntutmu ini, itu.
Tapi yang aku tau,
Tidak akan ada hubungan yang membangun jika tidak ada tuntutan.
Jika tidak ada permintaan yang mendesak untuk jadi yang lebih baik.
Seperti ketika aku memintamu untuk jujur tentang dirimu.
Tentang keadaanmu, keluargamu, masa lalumu.
Tentang bagaimana kamu bersikap dalam berbagai hal.
Aku bukan perempuan yang lembut.
Karena aku sering memaksamu bicara.
Karena aku sering membuatmu menangis.
Aku ini perempuan yang apa adanya.
Aku mau kamu tau, aku berusaha membuatmu jadi yang lebih baik.
Jadi yang lebih baik daripada aku sendiri.
Karena nanti, kamu yang akan jadi nahkodanya.
Bukan aku.
Mungkin tampak mudah untuk membuatmu bicara.
Tapi setiap yang kamu bicarakan, tidak pernah mudah untuk aku terima.
Kamu pernah berbohong.
Kamu pernah menyakitiku.
Sekali, dua kali.
Tapi bukankah memang tidak ada pasangan yang sempurna?
Kalau orang lain pernah berpikir kamu begini, begitu.
Aku sungguh ingin mereka tau bahwa kamu sudah berubah.
Aku ingin mereka tau bahwa kamu sudah jadi laki-laki yang jauh lebih baik daripada kamu yang dulu.
Aku ingin mereka tau bahwa kamu tidak pernah melakukan kesalahan yang sama lagi.
Aku ingin mereka tau bahwa kamu sudah bukan kamu yang dulu lagi..
Sulit, memang.
Tapi aku yakin Dia tau.
Aku tau bahwa Dia melihatmu berusaha.
Dia pasti tau bahwa kamu berusaha.
Seburuk apapun pandangan orang lain tentangmu,
Se-meremehkan apapun pandangan orang lain terhadapku,
Terhadap kita.
Mereka hanya tidak tau.
Bahwa aku bisa menemanimu untuk menjadi kamu yang lebih baik.
Saat teman-teman kita sibuk update status di media sosial tentang hubungannya,
Aku sering bertanya.
Apakah mereka benar-benar secinta itu?
Apakah si perempuan tau bahwa si laki-laki tidak pernah menyimpan perempuan lain di hati (atau di otak)-nya?
Apakah si perempuan yakin bahwa dirinya adalah satu-satunya untuk si laki-laki?
Apakah si perempuan percaya bahwa dirinya tidak akan pernah terganti?
Kalau kamu tanya aku,
Maka jawabannya adalah: Aku tidak yakin, aku juga tidak percaya.
Tapi aku tau bahwa kamu bukan laki-laki seperti kebanyakan dari mereka.
Aku tau bahwa kamu berusaha untuk menjaga dirimu dari hal-hal seperti itu.
Mungkin dulu tidak.
Tapi aku tau, sekarang iya.
Maafkan aku yang mungkin sangat cerewet memintamu ini, itu.
Mungkin aku terlalu takut kehilanganmu.
Berulang kali kamu bilang, kamu juga takut kehilanganku.
Sulit untuk dipercaya,
Tapi perlahan-lahan aku mulai percaya juga.
Terima kasih untuk semua usahamu dalam mengistimewakanku.
Tinggal selangkah lebih dekat menuju pernikahan kita, ya?
Tetap berdoa, beruangku.
Orang-orang yang membicarakan kita itu hanya tidak tau.
Betapa sulit jalan yang harus kita tempuh.
Betapa banyak halangan yang harus kita lalui.
Betapa banyak masalah yang harus kita selesaikan.
Kita dewasa, bersama-sama.
Bukan hanya dalam suka cita.
Tertawa bahagia, tanpa pernah khawatir akan masa depan.
Kita selalu khawatir.
Tapi takkan pernah ada harap tanpa rasa cemas.
Takkan pernah ada raja' tanpa khauf.
Kita dewasa, bersama-sama.
Menjadi pribadi yang baik bersama-sama.
Karena cita-cita kita, menjadi yang bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita, kan?
Tetaplah di sini.
Bersamaku.
Sampai kita tua dan bahagia dalam berbagi, selamanya.




