bismillah, sedikit cuplikan materi keputrian terakhir sama 45; dari buku Dalam Dekapan Ukhuwah-nya Salim A. Fillah..
Sang Nabi hari itu berdoa.
Di perang Badar yang tandus dan kering, dua pasukan telah berhadapan. Tak imbang memang. Yang pelik, sebagian mereka terikat oleh darah, namun terpisah oleh aqidah. Dan mereka tahu inilah hari furqan; hari terpisahnya kebenaran dan kebatilan.
“Ya Allah,” lirihnya dengan mata kaca, “Jika Kau biarkan pasukan ini binasa, Kau takkan disembah lagi di bumi! Ya Allah, kecuali jika Kau memang menghendaki untuk tak lagi disembah di bumi!” Gemetar bahu itu oleh isaknya, dan selendang di pundaknya pun luruh seiring gigil yang menyesakkan.
Dan Abu Bakar, lelaki dengan iman tanpa retak itu berkata, “Sudahlah ya Rasulullah,” bisiknya sambil mengalungkan kembali selendang Sang Nabi, “Demi Allah, Dia takkan pernah mengingkari janji-Nya padamu!”
“Tunjukkan padaku duhai Rabbi, bagaimana Kau hidupkan yang mati!”, begitu kata Ibrahim. Getar yang sama, nada yang sama. Itu iman. Itu iman yang gelisah. Seperti juga seorang Rasul pejuang yang terkuras upayanya nyaris melampaui batas ikhtiar manusiawi dalam menegakkan agama.
Rabbnya bertanya, “Belum yakinkah engkau akan kuasa-Ku?”, Ibrahim menjawab sepenuh hati, “Aku yakin. Hanya saja agar hati ini menjadi tentram.”
Entah mengapa, para peyakin sejati justru selalu menyisakan ruang di hatinya untuk bertanya, atau menagih. Mungkin saja itu bagian dari sisi manusiawi mereka. Atau mungkin justru, itu untuk membedakan iman mereka yang suci dari hawa nafsu yang dicarikan pembenaran. Untuk membedakan keyakinan mereka yang menghunjam dari kepercayaan yang bulat namun tanpa pijakan.
Di Badar hari itu, Abu Jahl juga berdoa. Dengan kuda perkasanya, dengan mata menantangnya, dengan suara lantangnya, dan telunjuk yang mengacung ke langit dia berseru, “Ya Allah, jika yang dibawa Muhammad memang benar dari sisi-Mu, hujani saja kami dari langit dengan batu!” Kalimat doanya begitu bulat, utuh, dan pejal. Tak menyisakan sedikit pun ruang untuk bertanya. Dan dia lebih rela binasa daripada mengakui bahwa kebenaran ada di pihak lawan.
Itukah keyakinan yang sempurna?
Bukan.
Itu naif.
ya. mungkin emang ga sama, tapi intinya..
Aku yakin. Hanya saja, agar hati ini menjadi tentram.
wassalamu'alaikum wr.wb



