bismillah, assalamu'alaikum, sebelum baca, ini copas dari http://anginvenus.wordpress.com/2011/09/20/kuliah-kedokteran-itu-susah-nggak-sih-sebuah-pengingat/ hehehe
“Kuliah Kedokteran itu Susah Nggak, Sih?” (sebuah pengingat)
“Kuliah kedokteran susah nggak sih?” Kira-kira seperti itu yang sering menjadi pertanyaan besar bagi siapapun yang belum berada di tengah-tengah kuliah kedokteran itu sendiri. Maksudnya, yaa.. kalian nggak akan tahu Pamulang Permai 2 itu di mana dan bagaimana kalau kalian nggak jadi tetangga saya di Pamulang (analogi yang cukup maksa :p)
Bahkan search engine yang merefer ke blog saya juga ada yang mencantumkan keywords, “Kuliah kedokteran susah.”
Entah itu statement atau pertanyaan, atau bisa jadi keduanya. Meski tetap saja, ketertarikan banyak orang terhadap dunia medis tak bisa ditampik.
Beberapa kali, dosen-dosen yang berbeda sering menanyakan pertanyaan yang sama pada angkatan saya, yang kurang lebih menuntut jawaban mengenai motivasi masuk kedokteran. Menurut saya, motivasi sangat menentukan persepsi susah atau tidaknya sesuatu, atau paling tidak timing dan responnya.
Jadi, sebelum menjawab pertanyaan tadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenali kembali motivasi kita. Jangan sampai, saat kalian ingin memilih kedokteran, motivasi yang kalian punya adalah hal-hal yang rapuh, lemah, yang tidak cukup kuat untuk meyakinkan diri kalian pada titik-titik nadir.
Contoh sederhana, ingin dianggap keren, ingin menang taruhan tentang bisa-bisaan masuk FK dengan teman, ingin dapat uang banyak (oalah nduk, kalau mau dapat uang banyak jadi pedagang aja, lebih mudah, lebih ringan, mencari kekayaan sama sekali bukan hal yang cocok untuk dokter; menjadi dokter adalah panggilan hati, dokter adalah pemegang amanah besar yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya; it’s not about money anymore), tertantang karena passing grade yang paling tinggi, atau keinginan lain yang kalau saya tanya, “Kamu yakin alasan itu bisa buat kamu bangkit dari titik terendah kamu?”, kalian akan menggeleng kuat dan menyatakan tidak.
Mengapa? Karena sesungguhnya, dalam hal apapun, peperangan paling berat terjadi dalam diri kita sendiri. Salah satu bentuk jihad yang utama (jihad itu artinya perjuangan lho, struggle, bukan sesuatu yang horor dan penuh ancaman) adalah jihad melawan hawa nafsu.
Jauh sebelum nilai ujian kita jelek, kita sudah dikalahkan oleh keinginan untuk menyerah atau malas belajar. Jauh sebelum kita jatuh di lubang yang sama, kita sudah dikalahkan oleh penolakan untuk belajar dari kesalahan sebelumnya.
Jadi, jawaban untuk pertanyaan ‘kuliah kedokteran itu susah atau nggak’ juga kuat dipengaruhi oleh niatnya, motivasinya.
Jika ditilik dari segi proses pembelajarannya, memang, kuliah kedokteran memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Banyak hal yang harus dipelajari, dipahami, diresapi. Jadwal kuliah yang Subhanallah, buku-buku yang tebal dan menyesakkan besarnya tapi sama sekali tak bisa kau tolak untuk dibaca, materi-materi yang rumit dan komprehensif, dan tuntutan-tuntutan lain yang harus dimiliki dan dibangun oleh mahasiswa kedokteran (bukan hanya hardskill, tapi juga softskill, emotional skill, dan pemahaman keIslaman supaya kita bisa berperan menjadi dokter dalam koridor yang diridhoi Allah, sayang kan kalau hebat menurut versi orang, tapi buruk di mata Allah).
–> Kalau ingin tahu lebih lengkap, nanti cerita-cerita secara personal aja, ya:)
Maksudnya begini, apa yang harus dijalani dalam proses kuliah kedokteran memang berat, tapi menyerah atau tidaknya kita, kembali pada diri kita masing-masing.
Apakah berat itu akan menjadi sesuatu yang kita pandang sebagai sesuatu yang sulit, atau sesuatu yang menyenangkan.
Kok senang, sih?
Saat kita punya tujuan yang jelas, hati, akal, dan jasad kita akan saling bersepakat untuk saling menguatkan menuju tujuan itu. Senang, semangat, teguh. Lagipula senang di sini bukan artinya tidak menangis, tapi senang yang menetap; senang yang bermula dari benih lalu tumbuh menjadi pohon yang besar. Bukan senang yang periodik. Mungkin, pada masa-masa ujian saya akan sering menangis, saat amanah-amanah yang tiba menuntut saya berbuat lebih banyak, saya juga akan menangis, tetapi setelah itu, saya bahagia. Bersyukur karena Allah memberikan banyak kesempatan yang harus saya tempuh untuk mencapai mimpi saya, dan kebahagiaan itu akan menjadi penghubung bagi kebahagiaan-kebahagiaan selanjutnya. Insya’Allah.
Berat, iya. Tapi pertanyaan intinya bukan itu, tapi apakah kita memiliki determinasi dan istiqomah untuk berdo’a, berjuang, dan bertawakkal agar rasa berat itu menjadi ringan.
Agar Allah mempermudah segala kesulitan.
Agar Allah membimbing segala langkah kita.
Agar Allah mendukung segala perjuangan kita.
Agar ridho dan syurga-Nya menjadi hadiah terbaik dari-Nya.
Jadi, pertanyaan ‘kuliah kedokteran itu sulit atau nggak’ adalah pertanyaan yang multidimensional, dan meskipun beberapa orang berpendapat bahwa pertanyaan itu bisa dijawab dengan ‘ya’ atau ‘tidak’, ketahuilah, jawabannya tak pernah berhenti sampai di sana.
Karena, memilih kuliah kedokteran artinya memilih bagaimana kamu akan menjalani peran dalam kehidupanmu selanjutnya.
Di kedokteran ini, kalian belajar bukan untuk diri kalian sendiri, kalian menangis, sakit, sedih, tertawa, berjuang, bukan untuk diri kalian sendiri. Murni, untuk Allah, dan untuk orang-orang yang diamanahkan menjadi pasien kalian.
Yang akan menjudge kalian, bukan para dosen, bukan mahasiswa kedokteran yang lain, tapi pasien kalian. Orang yang akan kalian hadapi saat mengamalkan keilmuan kalian.
Memilih menjadi mahasiswa kedokteran, adalah salah satu pilihan terbesar yang pernah saya ambil. Makna penuh tentang tanggung jawab menjadi semakin akrab dalam kehidupan saya.
Tanggung jawab.
Subhanallah.
Jadi, sebelum membulatkan hati untuk memasuki dimensi kuliah kedokteran ini, luruskan dan teguhkan kembali niat kalian. Bismillah. Yakinkan diri kalian,
Menjadi dokter adalah bentuk ketaatanku pada Allah.
Setelah itu, mari bergabung bersama, kita ikhtiarkan negeri yang sehat di tanah air yang kita cintai bersama-sama. Insya’Allah, jalan ini akan menjadi jalan yang paling kita syukuri sejak saat ini dan seterusnya.
***
Allah..
tulisan ini, menggugah semangatku. Allah, aku mau jadi dokter. aku mau jadi dokter yang baik.. yang bisa ada di saat orang-orang butuh.. dokter yang shalihah, yang benar agamanya, akhlaknya, ilmunya. yang bisa jadi peneduh, yang bisa menenangkan hati pasienku dengan menyebut nama-Mu..
poin pertama dari artikel itu,
"kuat dipengaruhi oleh niatnya, motivasinya"
ya, cukuplah Allah sebagai satu-satunya alasan bagiku untuk meraihnya :) dan juga di bawahnya, motivasi dari mama, mas ia, mba ari, mba ira, seluruh keluargaku, dan semua orang yang kusayangi
yang kedua,
"kuliah kedokteran memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Banyak hal yang harus dipelajari, dipahami, diresapi. Jadwal kuliah yang Subhanallah, buku-buku yang tebal dan menyesakkan besarnya tapi sama sekali tak bisa kau tolak untuk dibaca, materi-materi yang rumit dan komprehensif, dan tuntutan-tuntutan lain yang harus dimiliki dan dibangun oleh mahasiswa kedokteran (bukan hanya hardskill, tapi juga softskill, emotional skill, dan pemahaman keIslaman supaya kita bisa berperan menjadi dokter dalam koridor yang diridhoi Allah, sayang kan kalau hebat menurut versi orang, tapi buruk di mata Allah)"
tantangan terbesar. bukankah kau sudah biasa menghadapi tantangan rai? bisa kan, tersenyum di titik terlemah? bersemangat di saat yang lain menyerah? bertahan di kehidupan yang keras untukmu? pendidikan karakter? Ada Allah bersamamu rai :)
yang ketiga,
"Saat kita punya tujuan yang jelas, hati, akal, dan jasad kita akan saling bersepakat untuk saling menguatkan menuju tujuan itu. Senang, semangat, teguh."
belajar istiqamah rai!
ya, ada beberapa lagi, tapi umumnya ya itu. Allah.. kuatkan aku menggapainya..



