Pendidikan Kedokteran Universitas Indonesia 2013. Ya, almamater yang selalu kurindukan. Setiap kali orang bilang, “gue mau masuk UI”, aku tak ingin seperti itu. Aku mau FKUI. Bukan sekedar UI. Aku mau jadi dokter. Hanya itu.
Tapi, entahlah. Aku merasa tak mampu. Aku merasa tak cukup cerdas. Untuk masalah biaya, biarlah. Biar Allah yang mengatur rezekinya. Tapi masalah otakku? Aku tak cukup pintar. Mungkin, orang-orang bilang aku pintar. Tapi di mata dunia? Apa aku termasuk golongan orang-orang yang otaknya encer? Yang nilainya tinggi, selalu tinggi, dan tak pernah turun?
Bukan. Aku tidak termasuk golongan itu. Nilaiku biasa saja. Aku pernah remedial, sering bahkan. Aku juga jarang mengerjakan PR. Aku tak selalu hebat. Aku tak selalu bisa menyerap materi dengan sempurna. Faktornya? Aku tak tahu. Mungkin karena malas atau aku terlampau lelah.
Lalu bagaimana?
Apa aku bisa?
Aku juga tak bisa memaksa otakku untuk ahli dalam semua pelajaran. Fisika, terutama. Aku hanya mencapai kata “biasa” di pelajaran itu. Okelah kalau untuk pelajaran IPA di 3 sisanya, aku cukup bisa. Biologi, aku cinta biologi. Kimia, aku gemar mengutak-atiknya. Matematika, aku asyik saja dengannya. Tapi bagaimana? Apa hanya sekedar cinta, gemar, dan asyik bisa membawaku ke FKUI?
Sering aku memikirkan hal ini. Bagaimana dengan perasaan mama kalau aku tak mampu menembus FKUI? Apa kata guru-guruku? Apa mereka akan kecewa padaku? Atau aku harus mengalah, memilih jurusan lain, dengan alibi “yang penting UI”? Sebenarnya, bisa saja aku memilih kedokteran di universitas lain. Tapi mama tak mau. Aku hanya dibolehkan di UI. Lalu jika aku jadi anak UI, tapi kedokteran ku tak sampai, apa yang harus kulakukan? Mengambil jurusan lain yang bukan hatiku? Yang bukan diriku? Aih. Apa jadinya hidupku nanti?
Memang, masa depanku tak muluk-muluk. Di masa sekolah, aku ingin sekolah kedokteran setinggi-tingginya. Tapi bila saatnya aku untuk menikah, aku hanya ingin menjadi istri dan ibu yang baik, beribadah dalam keluargaku. Menghabiskan sisa hidupku dengan ibadah kepada-Nya. Lalu pendidikanku untuk apa? Untuk anak-anakku. Untuk orang-orang yang ada di sekitarku. Aku akan merasa sangat bahagia jika semua itu tercapai. Tak ingin aku menjadi dokter luar biasa, banyak harta, tapi meninggalkan keluargaku, mengabaikan anak-anakku, ingkar terhadap suamiku, tandanya aku zhalim kan? Aku tak mau. Aku hanya merasa senang dalam menuntut ilmu. Sesederhana itu saja.
Biarlah aku menikmati masa sendiriku dengan terus menuntut ilmu yang merupakan kegemaranku. Aku ingin belajar menjadi dokter. Mengagumi betapa sempurnanya Allah mencipta manusia dan alam raya ini. Bertasbih di kala aku mengetahui ilmu yang diciptakan oleh-Nya, yang tiada satupun bisa menandingi-Nya. Ya Allah, aku mau T_T
Setiap kali kurenungi ini semua, aku selalu hanya menemukan 1 jalan. Iya, perbanyak ibadahku! Itu senjataku. Yang terampuh. Biar saja pesaingku yang lain hanya jungkir balik di medan tinta, tapi biarkan kakiku melepuh karena banyak berdiri mengingat-Nya, biarlah tidurku tak banyak karena selalu rindu menangis bersimpuh di hadapan-Nya. Siangku diisi dengan semangat juang otakku dan malamku terisi penuh dengan sujudku. Ah, indah. Iya, itu satu-satunya jalan. Biarlah Allah yang membuka pintu kemudahan itu satu persatu. Ah, ya Allah, bantu aku untuk istiqamah melakukannya. :)
Ya Allah, aku ingin hidupku berjalan dengan baik. Prestasi akademikku. PASKIBRAku. Partisipasiku yang kecil di ROHIS, semoga bisa bermanfaat. Biarlah kudedikasikan hidup ini untuk mencari dan terus belajar tentang-Nya. “Karena dakwah itu tak selalu di ROHIS”, begitu kata kakak tersayangku di luar sana. Ya Rabb, beri aku kekuatan untuk menjalani dan menyelesaikan semuanya. :)
ALLAHU AKBAR!!



